Sebelum cerita dimulai, perkenankan saya minta maaf dulu. Mohon maaf lahir batin ya…
Lebaran berarti berkumpulnya keluarga besar, berarti pula bertukar kisah masa kecil. Dan ini adalah salah satunya.
“Kenakalan di usia dini jauh lebih baik daripada kenakalan di usia 40-an.” [Mat Ngodod].
Lebaran hari pertama kemarin, 3 keluarga dari pihak ibu ngumpul di rumah salah satu pakde. Kebetulan pakde gak bisa kemana-mana, karena salah satu anaknya, alias sepupu kami, dah siap-siap mo lahiran. Salah satu yang dirindukan setiap kumpul-lumpul seperti ini adalah berbagi cerita masa kecil. Terutama cerita kenakalan di masa kecil.
Ketika aku seumuran SD, kebetulan keluargaku tinggal bareng di rumah nenek. Bebarengan dengan keluarga pakde yang kami kunjungi dan dan keluarga bude yang juga ikut dalam rombongan pengunjung. Anak kedua dari bude memang sewaktu kecil terkenal bandel, mbeling kata orang jawa.
Salah satu kenakalannya adalah suka ngambil jajan tanpa bayar di toko langganan kami yang ada di deket rumah. Ada saja triknya, salah satunya terbongkar ketika kakakku bercerita kemarin. Triknya yaitu dengan meminta kakakku membayar jajanan yang dibeli, tapi pada saat yang bersamaan, kakak sepupuku itu mengambil jajanan lagi dan kemudian disembuyikan.
Hal ini hanya bisa dilakukan kalau yang menjaga toko itu adalah Om Pelo. Om Pelo ini sudah cukup uzur usianya, pendengarannya pun sudah terbatas. Om Pelo adalah pemilik toko ini. Kenakalan lain adalah dengan misuhi Om Pelo. Kakak sepupuku pernah misuhi Om Pelo ini. Tapi dengan volume yang tidak keras tentunya. “Jancuk 3x.”
Cen, kalau dipikir, pas kecil kita emang tega banget, nakal banget. Jadi gak salah, kalau mungkin itu nurun sama keturuanan kita. Gyahahaha….

Cerita ini bermula karena salah satu penghuni rumah kehilangan kunci kamarnya. Saat itu sudah jam 9 malam. Rumah kami bias dibilang ada di desa, pinggiran Klaten. Tempat di mana merupakan sebuah perjuangan tersendiri untuk mencari tukang kunci pada jam 9 malam.



Kumpulan Sabda Terakhir