Transfer via ATM : Tips n Trik

•14 November 2009 • & Komentar

Side job sebagai roadman bagian keuangan pabrik tempat saya bekerja seringkali memaksa saya untuk melakukan sebuah perbuatan tidak senonoh bernama transfer rekening via ATM. Salah satu trik yang sering saya gunakan agar penerima dana mengetahui kalo kiriman uang tersebut dari diri saya adalah dengan merubah satu digit terakhir dari nominal uang yang saya kirim. Sebagai contoh, saya mengirim sebanyak satu juta rupiah. Maka untuk mempermudah, nominal kiriman uang dirubah menjadi satu juta satu rupiah. Nah, kalau buku tabungan orang yang saya kirim itu dicetak, maka akan tertulis kiriman uang dengan nominal itu di hari itu pada kurang lebih jam itu, maka kiriman itu pasti dari saya.

Trik ini juga mempermudah terutama bagi pengguna mobile banking yang seringkali mendapat laporan transaksi dana via sms. Nah, kalau dengan nominal yang unik seperti itu, maka si penerima dana pasti akan dengan mudah mengenalinya.

Catatan:
1. Tambahan satu rupiah adalah bentuk betapa pelitnya kepala bagian keuangan saya ketika dia menyepakati usul saya mengenai tips dan trik ini.
2. Terima kasih kepada Siwi yang baru saja melepas keperawanannya karena telah mengingatkan saya akan tips n trik ini.
3. Terima kasih kepada para juragan hosting, yang telah memperkenalkan kepada saya tips dan trik ini.

Oleh-oleh Lebaran : Tragedi Om Pele

•22 September 2009 • & Komentar

Sebelum cerita dimulai, perkenankan saya minta maaf dulu. Mohon maaf lahir batin ya…

Lebaran berarti berkumpulnya keluarga besar, berarti pula bertukar kisah masa kecil. Dan ini adalah salah satunya.

“Kenakalan di usia dini jauh lebih baik daripada kenakalan di usia 40-an.” [Mat Ngodod].

Lebaran hari pertama kemarin, 3 keluarga dari pihak ibu ngumpul di rumah salah satu pakde. Kebetulan pakde gak bisa kemana-mana, karena salah satu anaknya, alias sepupu kami, dah siap-siap mo lahiran. Salah satu yang dirindukan setiap kumpul-lumpul seperti ini adalah berbagi cerita masa kecil. Terutama cerita kenakalan di masa kecil.

Ketika aku seumuran SD, kebetulan keluargaku tinggal bareng di rumah nenek. Bebarengan dengan keluarga pakde yang kami kunjungi dan dan keluarga bude yang juga ikut dalam rombongan pengunjung. Anak kedua dari bude memang sewaktu kecil terkenal bandel, mbeling kata orang jawa.

Salah satu kenakalannya adalah suka ngambil jajan tanpa bayar di toko langganan kami yang ada di deket rumah. Ada saja triknya, salah satunya terbongkar ketika kakakku bercerita kemarin. Triknya yaitu dengan meminta kakakku membayar jajanan yang dibeli, tapi pada saat yang bersamaan, kakak sepupuku itu mengambil jajanan lagi dan kemudian disembuyikan.

Hal ini hanya bisa dilakukan kalau yang menjaga toko itu adalah Om Pelo. Om Pelo ini sudah cukup uzur usianya, pendengarannya pun sudah terbatas. Om Pelo adalah pemilik toko ini. Kenakalan lain adalah dengan misuhi Om Pelo. Kakak sepupuku pernah misuhi Om Pelo ini. Tapi dengan volume yang tidak keras tentunya. “Jancuk 3x.”

Cen, kalau dipikir, pas kecil kita emang tega banget, nakal banget. Jadi gak salah, kalau mungkin itu nurun sama keturuanan kita. Gyahahaha….

Kambing Ganti Domain

•13 September 2009 • & Komentar

Lama gak buka Kambing, ada sesuatu yang berbeda. Ternyata Kambing dah ganti domain. Gak pake [dot]edu lagi, tetapi pake [dot]ac[dot]id. Sementara sih, yang [dot]edu masih tetep bisa dipake. Tapi ke depannya bakalan dimatiin tuh domain. Jadi yang ambil mirror, rsync ato kawan-kawannya, lebih baik kalo di-update dari sekarang, Monggo….

Turn Over

•6 September 2009 • & Komentar

Jiah.., kaget banget pas ngikut buka bareng mantan kantorku dulu beberapa hari yang lalu. Wajah-wajah lama ternyata udah pada cabut. Diganti dengan wajah-wajah baru. Kaget itu jelas…

Hm…., jadi keingetan. Komentar temenku, perusahaan yang turn over-nya itu sering banget, itu petanda kalo permasalahan ada di manajerial. Bukan di yang lainnya. Sigh….

Pesantren = Sekolah Tukang Kunci

•1 Agustus 2009 • & Komentar

Cerita ini bermula karena salah satu penghuni rumah kehilangan kunci kamarnya.  Saat itu sudah jam 9 malam. Rumah kami bias dibilang ada di desa, pinggiran Klaten. Tempat di mana merupakan sebuah perjuangan tersendiri untuk mencari tukang kunci pada jam 9 malam.

Tiba-tiba salah seorang teman datang menawarkan bantuan. Kita bukalah sisi luar engsel pintu. Terlihat batang engsel dan selongsong rumah kunci. Dengan menggunakan sebuah anak kunci dan obeng minus, tak kurang dari 5 menit, terbukalah kunci.

Menjadi menarik ketika mendengar komentar teman saya yang membuka pintu itu. Pelajaran membongkar kunci itu dia dapatkan dari praktek selama di pesantren. Dimana adalah praktek yang cukup sering terjadi, apabila salah seorang santri kehilangan kuncinya, maka kunci akan dibuka paksa, tanpa perlu sampai melukai sehingga kunci tak dapat dipergunakan lagi.

Aha…, jadi salah satu hasil dari nyantri adalah bisa membuka kunci tanpa anak kunci. Mungkin ini adalah salah satu hasil dari pelajaran life skill dari pesantren.

Gambar ngembat dari sini.

Mental Jerman di Stamford Bridge

•7 Mei 2009 • & Komentar

Miris…, sebagai penggemar Chelsea memang aku merasa miris. Gol Iniesta di injury time, ketika satu menit lagi pertandingan akan usai, memupuskan harapan Chelsea untuk menginjakkan kaki di Stadion Olimpico, Roma tanggal 27 Mei 2009 besok. Final Liga Champion pupus sudah dari genggaman.

Namun, salut… Barca memang luar biasa. Meskipun roman-roman frustasi sudah sempat ditampakkan oleh para pemain Barca di sepuluh menit terakhir, tetapi mental juara para pemain Barca memang patut diacungi jempol. Tampil hanya dengan sepuluh pemain, setelah Abidail dikartumerahkan, Barca harus mengejar defisit satu gol. Pertahanan Chelsea memang dikurung habis oleh para pemain Barca. Chelsea pun hanya membalas dengan sesekali melakukan serangan balik. Statistik bahkan lebih memihak ke Chelsea. Tak ada shot on goal sama sekali ke gawang Petr Cech hingga pertandingan nyaris berakhir. Namun mental pemain-pemain Barca emang jozz. Ingat, mereka bermain tanpa Carles Puyol dan Rafael Marquez.

Anda masih ingat dengan para pemain Timnas Jerman dengan mental baja mereka. Mental itulah yang ditunjukkan oleh para pemain Barca tadi pagi. Meski hanya bermain dengan sepuluh orang, kehilangan Rafa Marquez dan Sang Skipper, Puyol, ketinggalan satu gol serta bermain di kandang lawan, para pemain Barca menunjukkan semangat juang tiada tara. Sebelum pertandingan berakhir, tiada kata menyerah. Mereka terus menggempur gawang Chelsea.

Pertahanan berlapis dan disiplin Chelsea pun akhirnya goyah. Satu menit menjelang pertandingan berakhir, bobollah akhirnya gawang Chelsea. Stamford Bridge menangis. Chelsea kalah gol away. Mental mesin kalah dengan mental juara. Itulah kenyataan yang terjadi.

Final Liga Champion besok memang relatif ideal. Kedua tim sama-sama digdaya di liga lokal masing-masin. Kedua tim juga sama-sama mempunyai mental juara. Semoga track record itu menjadi sebuah garansi kita akan mendapat tontotan menarik tanggal 27 Mei besok.

Jadi anda dukung mana? Barca ato MU? Aku dukung wasit saja. Semoga permainan mereka tidak dirusak kepemimpinan wasit yang terkadang suka bikin kisruh pertandingan.

Against Doctor’s Orders

•22 Maret 2009 • & Komentar

Ada beberapa musisi yang memang bener-bener aku suka. Musisi yang seringkali berhasil memperbaiki mood-ku yang seringkali nggak stabil. Salah satunya adalah Kenny G. “Loving You” adalah komposisi yang paling aku sukai dari Kenny G (doh…, jadi inget ma seseorang kalo denger lagu ini). Namun untuk kali ini, bukan “Loving You” yang jadi topik bahasan, tapi “Against Doctor’s Orders”.

Yap…, nyaris sebulan aku tepar. Dada sesek gak karuan. Tiap kali tertawa hebat, tiap kali itu pula pasti akan diikuti oleh raungan batuk yang menyesakkan dada. Tiap kali melakukan aktifitas agak berat, badan langsung ngerasa capek. Paling aku benci adalah bagian terakhir ini, badan terasa meriang seharian, kalau keringatan, keringat dingin-lah yang keluar.

Pernah suatu ketika, sekitar 2001, dokter telah memintaku untuk berhenti merokok. Sesuatu yang bisa aku jalani selama beberapa waktu. Namun dalam waktu-waktu yang lain tidak mampu aku sanggupi. Seperti yang terjadi beberapa bulan terakhir. Beberapa bulan terakhir aku merokok lagi, setelah sukses berhenti selama dua tahun. Beberapa orang kebingungan ketika melihat aku merokok lagi, sesuatu yang wajar. Bahkan ada yang menduga, aku sedang mengalami patah hati kelas berat.

“Tuhan sembilan senti” itu memang benar-benar berhasil membunuhku. Pada minggu-minggu mendekati akhir Februari, kondisi fisik sudah benar-benar drop. Stamina ngos-ngosan. Sekedar bersepeda dari Nitikan ke Baciro, rute harian kosan-kantor, saja aku sering ngerasa kecapaian. Kepala juga jadi gampang pening.

Thanks God, sekarang dah mendingan. Meski dada terasa masih suka sesek, tapi masih dalam batas toleransi. Jadi, dalam waktu dekat ini, kemungkinan besar akan balik lagi ke dunia, setelah menghilang selama beberapa saat.

Pelajaran positif dari kejadian ini, aku sudah menghabiskan 3 novel, 3 kumpulan cerpen, 2 buku, lebih dari 10 tutorial ringan, dan tahu kabar terbaru soal perartisan alias penikmat infotainment.

*Doh…, baru tau aku kalo tenyata Ahmad Dhani sama Maia itu sudah cerai dan ternyata Julia Perez itu sudah punya suami.*