Mental Jerman di Stamford Bridge

•7 Mei 2009 • 6 Komentar

Miris…, sebagai penggemar Chelsea memang aku merasa miris. Gol Iniesta di injury time, ketika satu menit lagi pertandingan akan usai, memupuskan harapan Chelsea untuk menginjakkan kaki di Stadion Olimpico, Roma tanggal 27 Mei 2009 besok. Final Liga Champion pupus sudah dari genggaman.

Namun, salut… Barca memang luar biasa. Meskipun roman-roman frustasi sudah sempat ditampakkan oleh para pemain Barca di sepuluh menit terakhir, tetapi mental juara para pemain Barca memang patut diacungi jempol. Tampil hanya dengan sepuluh pemain, setelah Abidail dikartumerahkan, Barca harus mengejar defisit satu gol. Pertahanan Chelsea memang dikurung habis oleh para pemain Barca. Chelsea pun hanya membalas dengan sesekali melakukan serangan balik. Statistik bahkan lebih memihak ke Chelsea. Tak ada shot on goal sama sekali ke gawang Petr Cech hingga pertandingan nyaris berakhir. Namun mental pemain-pemain Barca emang jozz. Ingat, mereka bermain tanpa Carles Puyol dan Rafael Marquez.

Anda masih ingat dengan para pemain Timnas Jerman dengan mental baja mereka. Mental itulah yang ditunjukkan oleh para pemain Barca tadi pagi. Meski hanya bermain dengan sepuluh orang, kehilangan Rafa Marquez dan Sang Skipper, Puyol, ketinggalan satu gol serta bermain di kandang lawan, para pemain Barca menunjukkan semangat juang tiada tara. Sebelum pertandingan berakhir, tiada kata menyerah. Mereka terus menggempur gawang Chelsea.

Pertahanan berlapis dan disiplin Chelsea pun akhirnya goyah. Satu menit menjelang pertandingan berakhir, bobollah akhirnya gawang Chelsea. Stamford Bridge menangis. Chelsea kalah gol away. Mental mesin kalah dengan mental juara. Itulah kenyataan yang terjadi.

Final Liga Champion besok memang relatif ideal. Kedua tim sama-sama digdaya di liga lokal masing-masin. Kedua tim juga sama-sama mempunyai mental juara. Semoga track record itu menjadi sebuah garansi kita akan mendapat tontotan menarik tanggal 27 Mei besok.

Jadi anda dukung mana? Barca ato MU? Aku dukung wasit saja. Semoga permainan mereka tidak dirusak kepemimpinan wasit yang terkadang suka bikin kisruh pertandingan.

Against Doctor’s Orders

•22 Maret 2009 • 6 Komentar

Ada beberapa musisi yang memang bener-bener aku suka. Musisi yang seringkali berhasil memperbaiki mood-ku yang seringkali nggak stabil. Salah satunya adalah Kenny G. “Loving You” adalah komposisi yang paling aku sukai dari Kenny G (doh…, jadi inget ma seseorang kalo denger lagu ini). Namun untuk kali ini, bukan “Loving You” yang jadi topik bahasan, tapi “Against Doctor’s Orders”.

Yap…, nyaris sebulan aku tepar. Dada sesek gak karuan. Tiap kali tertawa hebat, tiap kali itu pula pasti akan diikuti oleh raungan batuk yang menyesakkan dada. Tiap kali melakukan aktifitas agak berat, badan langsung ngerasa capek. Paling aku benci adalah bagian terakhir ini, badan terasa meriang seharian, kalau keringatan, keringat dingin-lah yang keluar.

Pernah suatu ketika, sekitar 2001, dokter telah memintaku untuk berhenti merokok. Sesuatu yang bisa aku jalani selama beberapa waktu. Namun dalam waktu-waktu yang lain tidak mampu aku sanggupi. Seperti yang terjadi beberapa bulan terakhir. Beberapa bulan terakhir aku merokok lagi, setelah sukses berhenti selama dua tahun. Beberapa orang kebingungan ketika melihat aku merokok lagi, sesuatu yang wajar. Bahkan ada yang menduga, aku sedang mengalami patah hati kelas berat.

“Tuhan sembilan senti” itu memang benar-benar berhasil membunuhku. Pada minggu-minggu mendekati akhir Februari, kondisi fisik sudah benar-benar drop. Stamina ngos-ngosan. Sekedar bersepeda dari Nitikan ke Baciro, rute harian kosan-kantor, saja aku sering ngerasa kecapaian. Kepala juga jadi gampang pening.

Thanks God, sekarang dah mendingan. Meski dada terasa masih suka sesek, tapi masih dalam batas toleransi. Jadi, dalam waktu dekat ini, kemungkinan besar akan balik lagi ke dunia, setelah menghilang selama beberapa saat.

Pelajaran positif dari kejadian ini, aku sudah menghabiskan 3 novel, 3 kumpulan cerpen, 2 buku, lebih dari 10 tutorial ringan, dan tahu kabar terbaru soal perartisan alias penikmat infotainment.

*Doh…, baru tau aku kalo tenyata Ahmad Dhani sama Maia itu sudah cerai dan ternyata Julia Perez itu sudah punya suami.*

Menjadi Alien

•1 Februari 2009 • 9 Komentar

Alienasi menurut Karl Marx : buruh terasing dengan pekerjaanya sendiri. Dimana tugas kerja tidak memberi kepuasan hati yang hakiki, yang mana buruh tidak diberi kesempatan untuk mengatur keadaan fisik atau batin dirinya sendiri sebab dikuasai oleh kekuatan eksternalnya.

Pekerjaan menurut Karl Marx: adalah tindakan manusia yang paling dasar; dalam pekerjaan manusia membuat dirinya menjadi nyata.

*doooohhhhh…*

Sumber : ngembat dari wikipedia

Proxy yang Modhar

•28 Januari 2009 • 3 Komentar

Wogh…, cen marai amandel. Tiba-tiba proxy ISP-ku modhar alias koit. Jah, jadinya real beneran deh bandwidth. Biasanya sih nggak selemot ini kalo sekedar buka situs-situs yang sering dibuka. Semacam detikkom-nya Alyak itu. Tapi ya bijigimane lagi. Akhirnya gugling, nyari free proxy. Tapi ya gitu deh. Gak beda jauh. Hiks…

Curhate Wong Bete

•21 Januari 2009 • 10 Komentar

Jadi begini. Sebenarnya sudah lama banget diriku ini merasa penat dan cenderung stress. Salah satunya karena beban kerja yang cukup tinggi. Salah duanya karena beban kerja tinggi, maka kesempatan buat refreshing cukup minim dan ini berakibat energi negatif semakin jarang dibuang. Bahkan buat sekedar nulis blog aja sering kehabisan kehilangan ide.

Semalam sih sempat curhat sebentar ma temenku, mungkin lebih tepat apabila dia dibilang adik. Menurutnya aku kurang evaluasi diri. Bener juga sih, aku kurang evaluasi dan sedikit meluangkan waktu buat sekedar berpikir pelan. Mesin aja kalau di gas poll terus lama-lama juga bisa kepanasan dan rusak (baca: overheat). Untuk ini, aku berterima kasih buat Ima.

Semalam pula, aku coba menenangkan diri. Tidur di kantor sore-sore dan bangun pas dini hari, kemudian ngetik pelan-pelan. Nggak grasa-grusu. Mencoba mengecek detil demi detil hal-hal apa saja yang harus aku persiapkan untuk pekerjaanku besok paginya serta untuk hari-hari berikutnya.

Byuhhh, emang kerjaku jadi rada lambat. Nggak mencapai kecepatan optimalku. Namun itu dibayar dengan perasaan yang lebih lega dan tenang. Hari ini jadi nyaris sempurna. Aku lebih mengejar pada hasil yang mengurangi sebanyak mungkin kesalahan meskipun membutuhkan waktu lebih lama daripada menyelesaikan pekerjaan dengan cepat namun masih banyak kesalahan di sana-sini.

Sabar, tenang dan fokus itu intinya. Sesuatu yang sudah lama tidak aku lakukan dengan pekerjaanku. Menyelesaikan satu-persatu daripada memaksa untuk multitasking. Nggak ngoyo.

Jadi memang akan ada saat dimana kita butuh sekedar berjalan dengan pelan. Itu berarti kemarin malam dan hari ini bagiku.

Sungguh curhat gak penting.

Jeritan Hati

•12 Januari 2009 • 8 Komentar

Girl, when you said goodbye to me, it’s like you’ve do a “sudo -rm -rf /” command to my life.

*sejujurnya, malah pe el en yang telah meng-”sudo -rm -rf /” kompieku hari ini*

Pernikahan, Cinta dan Komitmen

•10 Januari 2009 • 10 Komentar

“Pernikahan itu dilandaskan pada sebuah apa?” pertanyaan itu aku lontarkan pada sebuah suara manis di ujung telpon sana. “Komitmen,” jawabnya. “Sebuah komitmen langgeng karena apa?” pertanyaan lanjutan coba aku lontarkan. Suara di ujung telpon itu terdiam. “Saling pengertian dan saling memahami?” aku mencoba menjawab dengan sebuah pertanyaan tertutup. “Iya,” suara di seberang itu mengiyakan.

Itulah realitas, cinta bisa datang dan pergi. Perasaan bisa berubah setiap saat. Namun tidak dengan komitmen (untuk terus mencoba saling mengerti dan saling memahami). Pernikahan adalah sebuah kontrak kesepakatan. Sebuah kontrak kesepakatan antara dua manusia.

“Tapi bukankah kita harus jujur dengan perasaan kita? Bukankah itu yang pernah kamu katakan padaku dulu?” Suara di seberang itu mencoba membela dirinya. “Iya. Tapi bersikap jujur pada perasaan bukan berarti dengan cara bersikap membabi buta dan mengambil keputusan bodoh bahkan tidak rasional bukan?” jawabku.

Benar, memang kita harus bersikap jujur dengan perasaan kita. Salah satunya dengan cara memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk mengaktualisasikan apa yang kita rasakan.

Memang cinta dan komitmen adalah hal yang berbeda. Namun keduanya akan mempunyai persinggungan (bahkan beririsan) apabila kita membicarakan keduanya dalam konteks pernikahan.

Aku percaya, bahwa pernikahan para orang tua jaman baheula dulu itu bisa awet karena diantara pihak mempunyai energi dan kesadaran bahwa saling pengertian dan saling memahami itu lebih penting dan berharga ketimbang cinta. Bahkan cinta bisa muncul dari saling pengertian dan saling memahami.

Perempuan di ujung telpon sana itu terdiam. “Jujur, aku sekarang lebih memilih mencari perempuan yang bisa mengerti dan memahami aku. Perempuan yang bisa menerima aku apa adanya. Daripada aku terus mengejar-ngejar perempuan yang aku cintai, namun tak kunjung (mau dan) mampu mengerti dan memahami aku,” sebuah kata penutup ku ucapkan yang sempat membuat perempuan itu terhenyak sejenak.

Memang tidak mudah untuk bersikap rasional dengan perasaan kita. Namun bukan berarti itu tak mungkin untuk dilakukan.