ngodod

Archive for the ‘sepakbola’ Category

“Gak mungkin,” ucap seorang teman. Statemen sederhana yang keluar dari obrolan ringan siang hari. Ya…, saya juga satu dari sekian orang yang pesimis Nordin Holid bisa turun tahta dari kursi Ketua Umum PSSI. Kecuali nantinya dia mangkat (karena ditabrak bajaj trus dilindas truk tronton yang remnya blong dan kemudian jenazahnya ditolak oleh bumi karena terlalu banyak korupsi). Baca entri selengkapnya »

Libido kebinatangan bernama seks itu ternyata bisa juga kalah bersaing. Ndak percaya, baca saja berita ini.

Ndak papa, meski kamu ndak jadi main di Liga Champion, ndak apa-apa. Aku masih tetep bakalan setia jadi pedukungmu kok. Sori ya, kemaren aku marah-marah. Toh akhirnya sekarang kamu nyadar juga, mau memperbaiki kekuranganmu. Uh…, jadi makin sayang deh aku sama kamu. Tetap berjuang ya…

Tag:

Gara-gara baca berita ini, jadi membayangkan. Duet Eto’o – Drogba, dengan penyerang lubang Kaka, bakal seperti apa dahsyatnya Milan musim depan. Tapi…, Milan memang bego karena kok masih belum beli pemain belakang yang masih fresh ya…

Tag:

Pagi ini, aku tiba-tiba kangen sama masa kecilku dulu. Bukannya tanpa sebab. Lagu “Mereka Ada di Jalan” kepunyaan Iwan Fals yang terdendang dari laptop kantor bikin aku jadi kangen sama masa kecilku. Masa dimana hampir tiap sore, aku dan teman-temanku menghabiskannya dengan main bola.

Kami adalah generasi yang dibesarkan di perkampungan kelas menengah (ke bawah) di tengah kota besar. Seperti kata Iwan Fals dalam lagu itu, “menjadi wajar” apabila tanah lapang untuk bermain bola bagi kami adalah sesuatu yang mewah. Maklumlah, Surabaya gitu. Jadi ritual main bola kami lakukan dengan menginvasi, kalau bukan Kampus B Unair atau salah satu lorong gang tempat kami tinggal. Untungnya Kampus B Unair bisa kami tempuh dalam waktu hanya sepuluh menit dari rumah dengan sepeda Tentunya dengan konsekuensi, kami bermain bola dengan bayangan sewaktu-waktu bakalan diusir oleh “Penguasa Kampus” yang berseragam pakaian satpam. Hiks…

Namun jujur, aku merasa lebih beruntung daripada anak-anak kecil saat ini. Hatiku miris melihat anak-anak kecil jaman sekarang. Semacam mereka sudah semakin gak mendapatkan tempat di muka bumi ini. Semacam mereka adalah dianggap tidak ada. Tanah lapang gak sebanyak dulu lagi yang bisa dijadikan tempat main bola kapanpun yang mereka mau. Bahkan sekarang, katanya Kampus Unair sudah susah dijadikan tempat main bola lagi. Karena dulu gak ada ceritanya kuliah sampe sore. Sekarang…? Kuliah bisa sampe malam. Jadilah, parkiran yang dulunya bisa jadi lapangan bola dadakan, gak bisa dipake karena masih jadi parkiran mahasiswa.

Tapi aku juga nyadar. Jaman sekarang mungkin sudah gak jamannya lagi main bola pake bola plastik dan tanpa alas kaki. Main bola dengan gawang yang terbuat dari sepeda yang diberdirikan terbalik. Dengan peraturan dimana tim yang kebobolan pertama kali harus buka baju. Bukan jamannya lagi main bola di tanah lapang parkiran. Jaman sekarang, anak kecil adalah sasaran empuk konsumerisme dengan berbagai bentuk komodifikasinya. Maka bermain bola pun harus dilakukan di lapangan sepakbola yang tarif sewanya bisa gila-gilaan. Belum lagi perlengkapan yang harus dipunyai agar bisa dianggap layak bermain bola.

Komodifikasi tak hanya berhenti di situ. Mainan jaman sekarang harus dibeli, tak ada lagi cerita menciptakan perlengkapan atau peralatan permainan sebelum bermain. Seperti ketika dulu aku harus membuat mobil dari kulit buah jeruk bali ato kaleng bekas susu sebelum bermain mobil-mobilan, atau membuat pistol dari pelepah pohon pisang sebelum bermain perang-perangan. Sesuatu yang menurutku, sebuah sarana yang murah, meriah sekaligus menyenangkan untuk mengasah kreativitas di masa kecil.

Kalaupun bukan begitu, anak jaman sekarang mainnya dengan mainan yang cenderung individualis. Dimana kontak dengan teman sebayanya sangat minimalis. Anak jaman sekarang sudah bisa bermain di rumah saja. Anak diciptakan untuk merasa nyaman di dalam rumah. Sesuatu yang secara tanpa sadar menciptakan sebuah “kurungan” di dalam rumah. Menciptakan rasa nyaman dengan segala fasilitasnya. Lebih aman daripada “dunia luar” yang liar, kejam dan ganas. Anak pun menjadi terbatas dan tidak berkembang skill bersosialisasinya.

Sakjane aku nulis apa sih ini, aku sendiri juga bingung.

Hahaha…, yang jelas, aku lagi kangen dengan masa kecilku dulu. Yang bisa kulalui dengan riang gembira dalam kebersahajaan. Dimana bermain adalah mempergunakan apa yang ada di sekitar. Dimana bermain adalah berarti kontak dengan teman sebaya. Dimana bermain tak selalu identik dengan menghabiskan uang. Dimana ketika bermain, solidaritas selalu dijunjung tinggi. Dimana ketika bermain, sekalius juga belajar menjadi orang yang fair dan jujur.

Lirik lagunya: [diembat dari http://www.lirikdanlagu.com/song35_161_752.html]

Mereka Ada Di Jalan
Iwan Fals

Pukul tiga sore hari
Di jalan yang belum jadi
Aku melihat anak anak kecil
Telanjang dada telanjang kaki
Asik mengejar bola

Kuhampiri kudekati
Lalu duduk di tanah yang lebih tinggi
Agar lebih jelas lihat dan rasakan
Semangat mereka keringat mereka
Dalam memenangkan permainan

Ramang kecil Kadir kecil
Menggiring bola di jalanan
Ruli kecil Riki kecil
Lika liku jebolkan gawang

Tiang gawang puing puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya
Para pembual saja

Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita disini di jalan ini

Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola
Tentu bukan salah mereka

Roni kecil Heri kecil
Gaya samba sodorkan bola
Nobon kecil Juki kecil
Jegal lawan amankan gawang
Cipto kecil Suwadi kecil
Tak tik tik tak terinjak paku
Yudo kecil Paslah kecil
Terkam bola jatuh menangis


Cahandong

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • Siaran Pers : Muhammadiyah, Rumah Sakit Tan Tock Seng dan Yayasan Temasek Singapura Bekerjasama untuk Meningkatkan Perawatan Darurat di Jawa Timur, Indonesia.
    Lamongan (23/7/2015) -Muhammadiyah, Tan Tock Seng Hospital (TTSH) dan Temasek Foundation, Singapura, mengadakan kerja sama untuk peningkatan kemampuan perawatan kegawatdaruratan di Jawa Timur, Indonesia. Kerjasama inimengembangkan program pelatihan resusitasi bantuan hidup dasar dan lanjutan yang didedikasikan untuk membangun kemampuan sekitar 480 tenaga kes […]
  • 15 Ribu Orang Meriahkan Jalan Sehat Jelang Muktamar di Makassar
    Makassar- Sebanyak lima belas ribu orang tampak tumah ruah di jalan Ahmad Yani Makassar untuk mengikuti Jalan Sehat dalam rangka emnyambut Muktamar Muhammadiyah ke-47 dan Seabad ‘Aisyiyah. Jalan sehat yang awalnya ditargetkan sepuluh ribu orang, membludak hingga lima belas ribu orang, sehingga panitia harus menyiapkan ekstra tiket yang dijual beberapa hari m […]
  • Din Syamsuddin Kagumi Kemajuan Gunungkidul
    Wonosari -Ketua Umum PP Muhamamdiyah, Din Syamsuddin memberikan tausiah dalam acara Pengajian Syawalan 1436, Kamis (23/7) di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari. Selain pengajian syawalan juga ada acara pelepasan jama’ah haji dari warga Muhmammadiyah Gunungkidul dan perresmian SMP Muhammadiyah Al-Mujahidin Wonosari. Dalam acara tersebut dihadiri Bupati Gunungkidu […]

Blog Stats

  • 43,682 hits
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.