ngodod

Posts Tagged ‘indonesia

Pancasila, diperkenalkan oleh Soekarno dalam sebuah Sidang BPUPKI. Saat itu para tokoh-tokoh Indonesia yang tergabung dalam BPUPKI, diminta pendapatnya mengenai apa dasar negara, yang kemudian kita kenal sebagai, Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Beberapa minggu terakhir ini, aku lagi demen banget ndengerin lagu-lagu indie. Semacam Efek Rumah Kaca (ERK), The S.I.G.I.T., Mocca, dan Sore. Yah.., semacam selingan dari lagu-lagu pasaran yang akhir-akhir ini dipenuhi dengan tema cinta, perselingkuhan dan orang ketiga. Sebenernya dah lama banget suka sama lagu-lagu indie. Cuman karena emang dah lama nggak updet, jadi serasa ketinggalalan banget gitu.

Pertama yang jadi akrab ditelingaku adalah ERK. iRadio menjadi terdakwa utama aku demen sama grup musik ini. Pas aku lagi siap-siap berangkat ngantor, lagu “Di Udara” membuatku jadi jatuh cinta pada pendengaran pertama dengan grup ini. Liriknya yang berbau kritik sosial serasa akrab. Secara aku adalah penggemar Iwan Fals. Meskipun musiknya biasa saja, tapi kekuatan liriknya membuat aku demen sama grup ini. Kapan ya aku bisa nonton konser mereka langsung…?

Yang kedua adalah The S.I.G.I.T. Grup musik dari Bandung ini bikin aku jatuh cinta dengan mereka setelah aku, sekali lagi, mendengarkan lagu mereka di iRadio pas nggowes berangkat ke kantor. Yang bikin aku kaget, ternyata Jet aja demen sama mereka. Uedan… Mendengarkan lagu-lagu mereka, serasa percaya nggak percaya mereka adalah grup musik yang berasal dari Indonesia. Nggak blas ada tanda-tanda mereka adalah grup musik dari Indonesia. Dengerin aja sendiri lagunya.

Mocca dan Sore. Dah lama aku demen ma lagu-lagu mereka. Cuman karena sekarang lagi asik denger The S.I.G.I.T. dan ERK, aku jadi keingetan sama dua grup musik ini dan jadi ketularan aku rajin dengerin akhir-akhir ini pas di kantor.

Sebenernya sih, kenapa aku demen banget dengan lagu-lagu indie, aku yakin ini hanya karena lagu-lagu pasar saat ini nggak banget ditelinga dan dihatiku. Semacam lagu-lagu patah hati, perselingkuhan dan menduakan. Jadi kangen juga dengan Iwan Fals jaman dulu yang lagunya nggak hanya cinta melulu.

Ada yang mengatakan, politik itu adalah seni mungkin. Politik adalah seni memainkan kemungkinan. Politic is the art of possible. Sebagai sebuah seni, banyak orang yang mengatakan, belajar ber-politik itu menyenangkan. Kesenangan yang akan berlipat ganda apalagi bila kita benar-benar ber-politik, dalam konteks apapun.

Politik membelajari kita untuk menghitung segala sesuatu. Menghitung dengan rigid, benar-benar terukur. Dengan berbagai ukuran yang jelas itu, kita akan mampu memperkirakan, sampai sejauh mana sebuah keadaan mungkin bisa terjadi di masa yang akan datang. Politik mengajarkan pula, bagaimana mempersiapkan berbagai jenis kemungkinan atas berbagai jenis kondisi yang terjadi. Setiap kondisi bisa disikapi dengan rencana yang berbeda.

Politik mengajarkan pula, seni bernegosiasi. Dengan apa yang kita miliki sekarang, kita bisa mendapatkan apa. Itu adalah inti dari negosiasi. Semakin lincah kita bernegosiasi, semakin lincah pula kita memainkan “kartu” yang kita miliki. Bahkan, pada tahapan tertentu, kelincahan ini bisa membuat kita dari pihak yang tertekan menjadi pihak yang menekan.

Namun politik (di sekitar kita) tidak mengajarkan satu hal, kedewasaan untuk menerima kekalahan. Tidak mengajarkan mengakui kesalahan. Tidak pula mengajarkan sebuah pentingnya kejujuran.

Namun itulah, seringkali semua hitung-hitungan itu membuat kita menjadi jumawa. Menjadi orang yang sangat dan terlalu rasional. Menjadi orang picik yang tak mampu melihat hikmah dari sebuah keadaan. Bahkan pada titik tertentu, membuat kita menjadi kehilangan kekayaan perspektif untuk melihat persoalan. Politik hanyalah bagian dari ikhtiar manusia. Politik hanyalah bagian dari usaha manusia. Jangan sampai, dengan ber-politik membuat kita kehilangan ke-ikhlas-an. [Halah…, politik kok dibenturkan dengan ikhlas.]

Semalam, aku mengikuti sebuah diskusi terbatas. Yah, hitung-hitung refreshing. Diskusi mengenai “The Emerging of China”. Ada sebuah point menarik yang kurefleksikan, yang dari dulu selalu mengganggu isi otakku.

Kebangkitan ekonomi Eropa di abad ke-18 tak bisa dilepaskan dari Etika Protestan. Semangat mencari kecukupan materi, tak bisa dilepaskan begitu saja dari spirit keberagamaan mereka. Spirit inilah yang membuat mereka begitu bersemangat mengelilingi dunia mengumpulkan harta benda. Meski ada banyak pendapat juga yang meragukan kebenaran teori ini.

China, selama beberapa tahun terakhir, menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru dunia. Dengan pertumbuhan ekonomi dua digitnya, membuat negara ini melesat cepat. Beberapa tahun terakhir ini, semakin banyak saja orang China yang masuk dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia. Dalam diskusi semalam, ini jelas tak bisa dilepaskan dari Etika Konfusianisme. Spirit Konfusianisme menjadi semacam amunisi yang terus mengisi senjata yang tak pernah berhenti menyalak milik para pelaku ekonomi-politik China.

Bagi beberapa pengamat, kasus subprime mortgage yang melanda Amerika, yang mengancam terjadinya resesi ekonomi di Amerika, hanya akan mampu sedikit mengerem pertumbuhan ekonomi China. Dari yang sebelumnya 11 % per tahun menjadi 9% per tahun. China juga mempunyai sebuah keyakinan yang tinggi akan kemampuan mereka sendiri. Mereka tidak tunduk pada sebuah paksaan akan mekanisme pasar global. Mereka tetap akan melakukan privatisasi terhadap perusahaan-perusahaan milik negara, tapi dengan cara mereka sendiri. China menjadi sebuah negara yang independen. Dalam hal ini, China memang luar biasa.

Lalu, ketika dalam perjalanan pulang, otakku kembali mumet, munyeng dan mungklet. Adakah sebuah Etika Islam yang akan mampu mendorong sebuah perubahan revolusioner bisa terjadi di Indonesia? Yang katanya berpenduduk muslim terbesar di dunia ini? Pertanyaan yang bagi saya tak perlu dijawab dengan sebuah perdebatan-panjang-tanpa-kenal-lelah-dan-tanpa-spirit-dialog mengenai seperti apa itu sistem ekonomi Islam. Sebuah pertanyaan yang mungkin hanya bisa dijawab oleh para entepreneur-entepreneur muslim. Bukan oleh mereka, yang mengaku para ahli hukum-dan-ekonomi-Islam. Wallahu a’lam bis shawab.


Cahandong

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • Bersama 16 Perguruan Tinggi di Indonesia, UMS Dinobatkan Menjadi Top University Asia
    MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA - Lembaga survei pemeringkatan Quacquarelli Symonds University Rankings pada pekan ini telah resmi mempublikasi hasil pemeringkatan universitas di wilayah Asia. Hasil publikasi tersebut kembali menempatkan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sebagai salah satu dari top university di Asia bersama 16 perguruan tinggi lain di […]
  • Dahnil: Semangat Identitas Muhammadiyah yaitu Gerakan Keislaman Bukan 'Pengharaman'
    MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan semangat identitas merupakan hal yang penting untuk dimiliki oleh setiap individu. "Semangat identitas menjadi dasar bagi banyak pembangunan yang terjadi di Indonesia. Seperti semangat identitas yang dimiliki oleh pemuda di daerah-daerah nusant […]
  • Pancing Kreatifitas Kader, Pemuda Muhammadiyah Buleleng Kenalkan Aero Modelling
    MUHAMMADIYAH.OR.ID, BULELENG - Tampak suasana berbeda ketika pelaksanaan latihan Hizbul Wathan Muhammadiyah Buleleng pada Jumat (20/10) di komplek perguruan Muhammadiyah Buleleng. Para pelajar yang berasal dari SMP dan SMA Muhammadiyah Buleleng tampak sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang dunia aero modelling yang disampaikan oleh Dodi Irianto, sala […]

Blog Stats

  • 46,345 hits