ngodod

Pernikahan, Cinta dan Komitmen

Posted on: 10 Januari 2009

“Pernikahan itu dilandaskan pada sebuah apa?” pertanyaan itu aku lontarkan pada sebuah suara manis di ujung telpon sana. “Komitmen,” jawabnya. “Sebuah komitmen langgeng karena apa?” pertanyaan lanjutan coba aku lontarkan. Suara di ujung telpon itu terdiam. “Saling pengertian dan saling memahami?” aku mencoba menjawab dengan sebuah pertanyaan tertutup. “Iya,” suara di seberang itu mengiyakan.

Itulah realitas, cinta bisa datang dan pergi. Perasaan bisa berubah setiap saat. Namun tidak dengan komitmen (untuk terus mencoba saling mengerti dan saling memahami). Pernikahan adalah sebuah kontrak kesepakatan. Sebuah kontrak kesepakatan antara dua manusia.

“Tapi bukankah kita harus jujur dengan perasaan kita? Bukankah itu yang pernah kamu katakan padaku dulu?” Suara di seberang itu mencoba membela dirinya. “Iya. Tapi bersikap jujur pada perasaan bukan berarti dengan cara bersikap membabi buta dan mengambil keputusan bodoh bahkan tidak rasional bukan?” jawabku.

Benar, memang kita harus bersikap jujur dengan perasaan kita. Salah satunya dengan cara memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk mengaktualisasikan apa yang kita rasakan.

Memang cinta dan komitmen adalah hal yang berbeda. Namun keduanya akan mempunyai persinggungan (bahkan beririsan) apabila kita membicarakan keduanya dalam konteks pernikahan.

Aku percaya, bahwa pernikahan para orang tua jaman baheula dulu itu bisa awet karena diantara pihak mempunyai energi dan kesadaran bahwa saling pengertian dan saling memahami itu lebih penting dan berharga ketimbang cinta. Bahkan cinta bisa muncul dari saling pengertian dan saling memahami.

Perempuan di ujung telpon sana itu terdiam. “Jujur, aku sekarang lebih memilih mencari perempuan yang bisa mengerti dan memahami aku. Perempuan yang bisa menerima aku apa adanya. Daripada aku terus mengejar-ngejar perempuan yang aku cintai, namun tak kunjung (mau dan) mampu mengerti dan memahami aku,” sebuah kata penutup ku ucapkan yang sempat membuat perempuan itu terhenyak sejenak.

Memang tidak mudah untuk bersikap rasional dengan perasaan kita. Namun bukan berarti itu tak mungkin untuk dilakukan.

11 Tanggapan to "Pernikahan, Cinta dan Komitmen"

Interview Request

Hello Dear and Respected,
I hope you are fine and carrying on the great work you have been doing for the Internet surfers. I am Ghazala Khan from The Pakistani Spectator (TPS), We at TPS throw a candid look on everything happening in and for Pakistan in the world. We are trying to contribute our humble share in the webosphere. Our aim is to foster peace, progress and harmony with passion.

We at TPS are carrying out a new series of interviews with the notable passionate bloggers, writers, and webmasters. In that regard, we would like to interview you, if you don’t mind. Please send us your approval for your interview at my email address “ghazala.khi at gmail.com”, so that I could send you the Interview questions. We would be extremely grateful.

regards.

Ghazala Khan
The Pakistani Spectator
http://www.pakspectator.com

Wishing you good luck in your soulmate search.. just open your heart and mind and hope this will easen your seach..

Kind regards from West Africa, indeed!

Cinta itu harus memiliki bro, kalo gak bisa dimiliki buat apa dicintai cuma bikin hati pegel ajah😀 . semoga ini jadi pilihan terbaik

nikah opo sepeda lipat dod..???
>
.
.
.
.
.*sing nggenah kowe..??*

sebuah titik yang mempertemukan keduanya adalah saat masing masing pribadi secara legowo dan ikhlas menerima kekurangan masing masing.

Memang tidak mudah untuk bersikap rasional dengan perasaan kita. Namun bukan berarti itu tak mungkin untuk dilakukan.

er…mungkin untuk saat ini buat saya gamoang banget ngontrol yang namanya perasaan. tapi saya suka quote ini😉

sip! jadi istri udah mbobot berapa bulan, kang?😀

Masalahnya memang terkadang
“yang kita cintai tidak peduli” dan “yang peduli tidak kita cintai”
kan tinggal kita rubah menjadi “yang peduli, mari kita cintai”.
Beress to..

jujur ituh sulit ju9a ya?
terlebih dalam hal perasaan…

perasaan dan cinta itu gak bisa dipaksakan tapi memang dari kebiasaan bisa muncul rasa cinta….kata orang jawa “tresno jalaran soko kulino”….memang kata orang cinta tidak harus memiliki but…… it’s bull shit….omong kosong….mau gak mau kita harus memiliki kalo kita mencintai…..jadi….mau gak mau memang harus kita tinggalkan meski itu keputusan yang menyakitkan….memang sering kali kita tidak menyadari dengan orang yang ada di sekitar kita…ternyata mereka bisa mengerti bahkan menerima dab mencintai kita apa adanya jadi…lihat di sekitar mu…ok bro….

bisakah kedua belah pihak selalu berpikiran sama tentang tulisan diatas???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cahandong

Dobosan Paling Laku

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 45,796 hits
%d blogger menyukai ini: