ngodod

Falsifikasi, Bukan Negosiasi

Posted on: 9 September 2008

Ketika pilihannya adalah siapa yang mampu meruntuhkan teori yang lain, ketika siapa yang mampu meniadakan kebenaran yang lain, itulah falsifikasi. Pilihannya adalah saling meniadakan, bukan mencari titik tengah. Karena cara pandang konfliknya adalah vis-a-vis, berlawanan secara diametral.

batman-robin

batman-robin

Mungkin memang egois, tapi itulah pilihan atas bagaimana menjalani hidup. Ketika idealisme hidup adalah satu-satunya yang mampu memberi makna atas kehidupan yang dijalani. Ketika yang dikejar adalah substansi, bukannya gincu dan lipstik.

Ketika yang dikejar tidak sekedar sejauh apa materi yang mampu kita dapat. Namun juga bagaimana kita mendapatkannya, bahkan untuk apa kita mendapatkannya juga menjadi sebuah pertanyaan penting untuk dijawab terlebih dahulu.

Karena mungkin, bagi beberapa orang, “cita-cita” atau “impian bodoh”, membuat orang tersebut menjadi merasa hidupnya berada dalam jalur yang “benar”. Ketika mengejar “kebenaran” itu jauh lebih penting daripada sekedar materi. Tapi itulah arti “kebenaran” bagi seorang “pencari kebenaran”. Itulah arti “cita-cita” bagi seorang “pejuang”. Karena ketika melihat “ketidaksesuaian”, pilihannya adalah lawan dan terus lawan.

Atau mungkin karena dia adalah bukan pecinta kenyamanan. Ketika zona nyaman adalah sebuah yang harus terus diperluas. Ketika bermain-main dengan resiko adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Meski konsekuensinya menjadi dijauhi dan menjadikannya tidak populer. Meski itu terkadang membuatnya lelah.

Lalu…?

Dan aku sedang menunggu seseorang yang mampu meruntuhkan sok idealisme-ku. Membuat aku menjadi berpikir kembali dengan permainan adrenalin dan rasa kekanakanku dengan kegemaran bermain di zona yang kurang nyaman. Yang mampu memaksaku untuk bisa mengikuti sebagian, kalau toh pun tidak semua, pikiran dan idenya. Apakah dia ada di luar sana…?

Gambar diambil dari sini.

4 Tanggapan to "Falsifikasi, Bukan Negosiasi"

pilihan hidup bukannya terserah kita yak? mau jadi idealis, pragmatis atau is is yang lain.

…Yang mampu memaksaku untuk bisa mengikuti sebagian, kalau toh pun tidak semua, pikiran dan idenya. Apakah dia ada di luar sana…?…
sebuah hubungan itu bukannya win-win yak? jadinya tdak ada yang dipaksa, yang ada kompromi sajah. cmiiw.

wew..so teu, sorry dude.

mesti urusan jomblo dan menikah..😛

yah begitulah hidup…😀

hidup adalah pilihan yakh?

yakinlah bahwa “dia” masih ada disana,makanya dicari jangan diem sajah hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cahandong

Dobosan Paling Laku

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 45,796 hits
%d blogger menyukai ini: