ngodod

Living Paradoks

Posted on: 29 Juni 2008

“Living Paradoks”, pernah mendengar sebelumnya? Aku baru saja mendengarnya. Aku mendapatkan istilah ini dari seorang teman, pada sebuah perbincangan di sebuah malam, di sebuah café, tepat di tengah-tengah jantung Ibukota Negara kita yang makin lama makin absurd ini.

Living paradoks, dalam terjemahan bebas berarti paradoks yang hidup/nyata. Living paradoks digambarkan sebagai pertentangan dari dua hal yang saling menegasikan namun berada dalam sebuah entitas yang sama. Kebetulan entitas itu berwujud manusia.

Pada perbincangan di cafe itu, aku dan temanku, sebutlah namanya Firman, sedang mencoba sedikit berefleksi. Memetakan isi otak kita yang kelihatannya semakin lama, semakin kompleks isinya. Namun sayangnya kita tidak pernah sempat untuk sekadar membaca, menyusunnya dalam sebuah peta dan menempatkannya dalam folder-folder yang spesifik. Sehingga kita bisa mengetahui dengan jelas apa saja isi otak kita dan mampu menemukan dengan cepat ketika kita membutuhkannya.

Dalam perbicangan itu tanpa sadar semuanya mengalir begitu saja. Kemudian kita terhenyak ketika bertemu pada sebuah titik. Titik di mana kita tersadar. Ada sebuah paradoks yang laten, yang telah begitu lama bersarang di otak kita.

angkringanParadoksal itu adalah pertarungan antara kapitalisme dan sosialisme. Where does we have stand at? Dalam diskusi-diskusi seringkali yang muncul adalah idealisme-idealisme pemerataan dan keadilan akan kesempatan dan akses. Ketimpangan adalah sebuah hal yang salah dan tidak benar. Dalam idealisme dunia yang indah, yang diimpikan adalah sosialisme. Perbedaan memang adalah keniscayaan, namun bukan berarti perbedaan berarti pula ketimpangan dan ketidakadilan.

Namun pada sisi yang lain, kapitalisme telah membentuk karakter kita, membentuk life style kita. Apa sih yang enak itu? Keren itu yang gimana sih? Lagu apa yang enak didengar? Tempat nongkrong mana dan seperti apa yang gaul? Hedonisme dan konsumerisme telah mengkungkung kesadaran kita. Seringkali ketika kita merasa penat, kita menghibur diri dengan nongkrong di café, baju yang dalam pandangan kita keren adalah celana jeans dipadu dengan kaos bermerek. Ketika akan makan enak dan berkelas, maka pizza hut, mc donald, kfc menjadi tujuan. Musik yang keren adalah r&b, rock, pop. Musik yang keren ada dan diputar oleh mtv trax dan prambors. Trus apa yang salah dengan angkringan, lagu-lagu Benyamin S, sarung dan kaos oblong?

Mungkin memang kita perlu untuk lebih sering berinstropeksi. Sekedar menengok ke belakang. Have a nice day…

[sebuah tulisan di blog lama yang diposting ulang. aslinya ada disini. gambar ambil dari sini.]

2 Tanggapan to "Living Paradoks"

starbuck telah mengalahkan warung kopinya setarbak mas, hehehe
http://catra.wordpress.com/2008/06/14/warkop-vs-starbucks/

duluan mana yuh starbuck sama setarbak..?

nda ada yang salah dg angkringan[akyu masih suka nongrong disetu],pun lagu2na benyamin masih enak didengar hingga sekarang..sarung dan kaos oblong juga sendal jepit merupakan kebanggaan sehari2 heheh…hanya sajah jaman sekarang sudah jauu berubah dan berkembang..*sotoy modeon* heheh

jaman berkembang dan menggerus sikap bijak…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cahandong

Dobosan Paling Laku

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 45,796 hits
%d blogger menyukai ini: