ngodod

Terkadang Sendiri itu Lebih Baik Adanya

Posted on: 21 April 2008

Beberapa temanku semacam “bersikeras” dan “setengah memaksa” menyarankan aku untuk segera mencari pacar calon istri baru. Segera mencari pengganti setelah aku putus beberapa saat yang lalu. Baik ngomong langsung, pake sms, via telpon atopun pas kami chatting. Menurut mereka buat apa aku berharap dan masih teteup kekeuh ngejar mantanku. Yah, menurut mereka, perbedaan kami susah untuk dikompromikan. Aku dan dia relatif kekeuh dengan prinsip dan pandangan masing-masing. Masing-masing punya cara pandang yang “cukup bertolak belakang” pada beberapa hal.

Sebenernya kalo berdasarkan pilihan rasional, memang saran temen-temenku itu pada bener. Namun seperti yang kita ketahui bersama, merubah perasaan itu gak segampang ngeblog memutar telapak tangan. Jujur, aku bukan tipikal laki-laki yang bisa melupakan begitu saja perempuan yang pernah berkomitmen denganku. Sama mantanku ini, aku dah punya perasaan sama dia sampe sekarang berjalan menuju tahun ketiga. Meskipun kami sudah deket-menjauh sampe kurang lebih dua ato tiga kali.

Bukan apa temen, persoalan hati emang gak gampang. Jujur, dengan putusnya komitmen yang sekarang ini, aku jadi lebih berhati-hati dan cenderung agak trauma untuk berkomitmen lagi dengan perempuan. Meskipun jujur, itu juga mempunyai dampak positif buatku. Aku sekarang jauh lebih fokus dengan diriku sendiri, bukan fokus ke orang lain. Pilihan-pilihanku jauh lebih berpusat ke bagaimana dengan konsekuensinya padaku, dengan menomorduakan konsekuensi-konsekuensinya terhadap orang lain. Sesuatu yang mungkin bukan aku banget beberapa tahun yang lalu. Tak selamanya lilin mampu berpendar.

Entahlah, aku sedang tak ingin memikirkan komitmen dengan perempuan. Aku sedang menikmati apa yang aku punya sekarang. Kesibukan di kantor, kerjaan yang menumpuk, menemui teman-teman lama, menjadi kakak yang baik buat adik-adik perempuanku, segera menyelesaikan kuliah, membiasakan pola hidup yang lebih teratur, belajar ngoprek linux, baca-baca, ngeblog, belajar mengeksekusi apa yang sudah aku rencanakan dan banyak hal lagi.

Meskipun itu juga berarti, aku gak punya temen curhat yang berstatus pacar calon istri. Gak ada perempuan yang akan setia untuk menjadi teman nonton pilem, jalan-jalan dan makan. Bisa merasakan debaran hati ketika berada di dekat seorang peremuan yang aku sayangi. Yah…, trauma itu mengalahkan “bayangan indah” itu. Menjadi seorang pecundang? Mungkin bagi beberapa orang aku adalah pecundang. Tapi aku menikmati saja. Karena dengan kondisi seperti sekarang, aku bisa menikmati kesendirianku. Melakukan apa yang aku ingini, tanpa perlu banyak pertimbangan. Seperti nongkrong di warung kopi, baca buku sampe bosen, blog walking dan banyak hal yang mungkin cukup susah aku lakukan kalo aku punya pacar calon istri. Terkadang, sendiri itu lebih baik adanya.

Dan tahukah…, aku masih tetap mengharapkan mantanku sampai sekarang. Menjadikannya “bintang di langit”-ku. Yang mungkin hanya bisa kulihat saja, tanpa pernah mampu aku miliki. Menciptakan semacam sebuah kebahagiaan semu…

tulisan ini teruntuk mereka yang meski jauh, namun selalu berada di hatiku…

8 Tanggapan to "Terkadang Sendiri itu Lebih Baik Adanya"

yah kata orang mengikhlaskan seseorang itu mudah, namun yang susah itu untuk melenyapkan kenangan.

tapi bagaimanapun juga …

“Berpasangan juga lebih baik adanya koq dong”
🙂

[sedang terdiam…, menikmati kesendiriannya]

cinta itu tidak memandang jenis kelamin, ygn penting setia …..

wah.., ndak mau saya. ntar malah dilaknat. hih…

welcome aboard…
you’ll never regret the choice ‘u made…

welcome abroad..??? wah semoga aku gak ikutan terlalu lama aja…kekekeke..
*kaaabbbooorrrr….

hehehe😀 ternyata ada juga lelaki yg seperti ini… pilih yg bikin nyaman di hati aja. Setuju banget untuk tidak memaksakan diri…

seperti gimana bu dosen…??? saya ndak dong…

Waaaahhh,…
Syusyah I ngomong degh….
Sayah ndak pernah nyari cewe’…

Soale biyasanya mereka dateng dengan sendirinya…. 😉

[lagi membayangkan bisa ketimban pulung kayak yang komen…]

wah wahhhhhhhhhhh dongggg, kita senasib, kamu paling ga karena prinsip, yah kalo aku, kan kamu tau sendiri heheh, she left me karena dia merasa tak lagi kuat LDR dan telah jatuh hati lagi, ya beruntunglah dikau tidak sakit hati banget, dan soal menunggu ya aku jgua ngerasain ini, tapi for now i must move on/

kejar terus oom. kalau tiba tiba gak yakin lagi, yah itu titik baliknya. tapi kalo masih yakin, why not kejar terus.

wah.., lagi patah hati kelas wahid nih om soalnya. sudah dalam titik nadir terendah percaya sama perempuan. hehehe…

Duh..kasian…..🙂

waduh rip…, bukan untuk dikasihani je.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cahandong

Dobosan Paling Laku

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 45,796 hits
%d blogger menyukai ini: