ngodod

Demokrasi dan Post-Tradisional

Posted on: 12 April 2008

[sekedar sebuah refleksi saja]
Beberapa hari ini, yang namanya teve dalam kontrakanku dipenuhi dengan berita soal kericuhan Pilkada Maluku Utara yang makin lama makin gak jelas juntrungannya. Penyelesaian kasus yang mirip main ping-pong menjadi kontributor utama berbagai macam kerusuhan yang terjadi di sana. Kerusuhan yang kesekian kalinya dalam pelaksanaan Pilkada di Indonesia [cari data kerusuhan Pilkada].
Peristiwa ini makin membuatku semakin yakin bahwa sampai beberapa tahun ke depan, masyarakat Indonesia masih akan sulit untuk bisa dewasa dalam berpolitik (baca: berdemokrasi). Lha wong yang ngaku mbah-nya demokrasi aja masih belum bisa bener (-bener menjadi seorang demokrat), apalagi kita yang masih bayi dalam berdemokrasi. Demokrasi di Indonesia saat ini masih baru sebatas prosedur. Demokrasinya masih baru sebatas aturan main. Ruh dan esensi demokrasi belum sampai menjadi bagian dari keseharian kehidupan berpolitik dan berdemokrasi.
Lalu apa hubungannya dengan post-tradisional? Aku termasuk dalam generasi yang kekeuh kalo masyarakat Indonesia itu belum pernah benar-benar serius hidup dalam budaya modern, apalagi post-modern. Menurutku sih, masyarakat Indonesia itu meloncat dari masyarakat agraris yang tradisional langsung menuju ke masyarakat (sok perkotaan yang) post-tradisional. Cuman gayanya aja yang sok modern tapi pola pikir dan mentalnya sih masih tradisional. Sehingga yang namanya paham dan kemudian patuh akan tanda dan petanda, yang merupakan sebuah standar sebuah masyarakat modern, itu masih gak jalan. Gak percaya, coba saja, yang namanya ngelanggar lampu merah (di bangjo) itu dah biasa kita liat di tiap perempatan. Gak hanya itu, juga berhenti dengan cueknya padahal ada tanda dilarang berhenti di situ, dan yang parah, ngerokok di dalam lift. Shit.., bego…!!! [bener, aku pernah nahan emosi pengen nge-bunuh seorang anak muda yang malah melengos pas aku ingetin buat matiin rokoknya di lift di salah satu mall.]
Back to our focus. Yang namanya masyarakat dengan mental tradisional itu masih belum siap dengan pola hidup modern. Yang disusun atas sebuah struktur kepemimpinan yang didasarkan atas “kondisi obyektif”. Masyarakat masih suka, sadar ataupun tidak, memilih dan mempunyai pemimpin atas privilage tertentu. Ya suku-lah, agama-lah, hubungan kekerabatan-lah, bahkan hanya berdasar para wajahnya. Masih ndak percaya, “Pilih aja calon presiden A. Dia ganteng lo…” Hueks…
Jadi trus gimana? Hahaha, aku bukan anti-demokrasi kok. Namun aku bakalan tetep golput sampe bener-bener ada partai politik yang memang bener-bener mencerdaskan rakyat. Bukan partai politik yang sok mencerdaskan rakyat tapi ujung-ujungnya juga membodohi rakyat. Namun tetep, aku akan dengan apa yang aku bisa, akan tetap berusaha melakukan pendidikan kepada rakyat. Bahwa demokrasi itu pilihan terbaik kita saat ini dan bahwa adalah penting, memilih segala sesuatunya itu harus dengan pertimbangan yang obyektif dan rasional. Minimal buat aku sendiri-lah…

3 Tanggapan to "Demokrasi dan Post-Tradisional"

kita masih belum siap berdemokrasi ya bos?

mungkin balik ke sistem kerajaan saja..?

ya nggak juga… ak masih merasa demokrasi adalah sistem terbaik. cuman kita perlu bekerja keras untuk belajar lebih dewasa untuk berdemokrasi. itu saja…

Kata Baudrillard, demokrasi itu: “menopause masyarakat barat..”.

Parlemen yang berdiri angkuh itu “penanda politik yang lagi tak punya berahi”..itu kata Goenawan Mohamad.

“demokrasi itu ciri dan cara manusia bodoh kebanyakan yang takut melawan sekelompok kecil orang yang berpikir”.. nah itu kata Mas Kopdang.
😉

njuk pie mas kopdang..? balik ke jaman kerajaan ato kekhalifahan ato chaos sekalian aja..? kekekeke…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cahandong

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • IMM Maksimalkan Peran dalam Bidang Politik dan Sosial Masyarakat
    MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menegaskan gerakannya untuk menuju Indonesia Berdaulat melalui kiprahnya di berbagai bidang. Dalam hal ini bidang Riset, Pengembangan dan Keilmuan (RPK) DPP IMM menunujukkan keseriusannya dengan mengadakan workshop dengan tema “Reaktualisasi Ilmu Pengetahuan Untuk I […]
  • Busyro : Melawan Korupsi Tidak Perlu Menunggu Hari Anti Korupsi
    MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika menutup Tanwir Pemuda Muhammadiyah di Tangerang berapa waktu yang lalu bahwa salah satu hal yang menyebabkan Indonesia kalah dalam daya saing dengan bangsa lain yaitu tingginya angka korupsi di Indonesia. Menyikapi pernyataan Presiden Jokowi tersebut, Busyro Muqoddas Ketua Pimp […]
  • Tanpa judul

Blog Stats

  • 45,807 hits
%d blogger menyukai ini: