ngodod

Posts Tagged ‘gender

Knowledge is a power. -Francis Bacon-

Apakah ilmu itu? Bagiku kadang berarti sebuah deretan teori dan deretan angka-angka memusingkan. Yang sepanjang aku tahu, ilmu itu hanyalah sebuah upaya manusia memahami sekitarnya. Tak lebih dan tak kurang dari itu.

Memahami, mungkin lebih tepatnya mengerti, terkadang tak jauh dengan hasrat menguasai. Pun tak jauh beda dengan ilmu. Baca entri selengkapnya »

iklan kdrtSempet senyum-senyum tadi pas baca postingan Unai yang ini di plurk. Jadi keingetan dengan isu gender yang dulu sempet aku pelajari dengan serius. Sampai sempet ngerasain jadi fasilitator pelatihan dan keliling Indonesia gara-gara isu itu.

Dunia emang cukup patriarkhis. Semuanya didasarkan pada laki-laki. Seperti anekdot di postingan Unai itu, seorang anak kecil bertanya pada temennya, “kalau untuk menyebut Polisi Perempuan itu Polwan, trus kalo nyebut Polisi laki-laki itu apa?” Sungguh pertanyaan yang bias gender banget. Tak hanya di Indonesia, di luar negeri pun juga masih bias gender. Gak ada yang namanya HERstory, yang ada itu HIS(s)tory.

Bahkan salah seorang temenku, skripshit-nya malah membahas tentang bias gender yang ada dalam epistimologi pengetahuan. Hahahaha, emang dia anak filsafat, bung. Jadi gak heran kalo skripshit-nya seperti itu temanya. Oh, ya, KDRT juga bagian dari bias gender lo…

Inilah laki-laki, egonya gak ketulungan tingginya. Punya kedudukan setara sama perempuan aja gak mau, apalagi sampe kalah tinggi. Pun gitu pula komen ibu-ibu yang juga jadi aktifis dan pekerja pas curhat ma temenku. Para ibu-ibu tuh dah siap perang sampe berdarah-darah di ruang publik. Mau jika sampe harus sikut-sikutan dengan para bapak-bapak. Tapi…

Nah ini dia, tapinya itu. Para suami mereka a.k.a. para lelaki tidak mau tau dengan konsekuensi yang harus dihadapi oleh perempuan yang berjuang di ruang publik. Karena dengan bertempur di ruang publik, konsekuensinya ada waktu yang harus dikonversikan. Itu berarti, yang terkonversikan adalah waktu dimana para perempuan berada di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah (domestik). Pekerjaan semacam masak, mengurus anak, menyapu, mengepel, mencuci baju, dan semacamnyalah.

Konsekuensi ini memunculkan, harus ada pihak lain selain perempuan tersebut yang harus meng-cover pekerjaan yang mereka tinggalkan. Namun yang seringkali terjadi malah perempuan tersebut bukannya malah dibantu dengan adanya pihak lain (baca: suami) yang turut membantu sang istri untuk ikut menyelesaikan pekerjaan domestik yang melelahkan itu. Namun malah para lelaki itu masih asik berleha-leha nonton teve sambil nyeruput kopi. Nah, akibatnya para perempuan itu jadinya terkena beban ganda (double burden). Selain mengerjakan pekerjaan domestik, mereka juga berjuang di ruang publik. Nah, berbagi kerjaan aja gak mau, apalagi disuruh berbagi kekuasaan…

[Hehehe, suer. Besok-besok aku akan lanjutin nulis soal isu perempuan/gender lagi. Itung-itung nge-refresh otak, setelah lama gak bergelut di isu gender lagi. Thanks buat mbak Dewi Ahmad atas trigger-nya…]


Cahandong

Dobosan Paling Laku

Ternyata Anda…

IP

Gudang Dobosan

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 24048

@ngododp

Kerjo Nganggo Pit

RSS Official Muhammadiyah Website

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 42,126 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.