Posted by: ngodod on: 23 Mei 2011
Berdasarkan penelitian Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu, yang dipublikasikan dalam Buletin Ngilmiah Berkala Mbulet. Buletin yang kala-kala terbit, kala-kala tidak terbit, namun lebih sering tidak terbitnya, pada edisi Malam Jumat Legi tanggal 13 Mei 2011, menyatakan bahwa bersepeda dapat memicu penyakit jantung. Tidak memperdulikan jenis kelamin, usia bahkan agama.
Dalam penelitian ini, Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu tidak hanya melakukan wawancara dan penelitian lapangan, namun juga melakukan riset partisipatoris. Penelitian ini dilakukannya selama 40 hari 40 malam di daerah Kota Jogja dan sekitarnya, setelah sebelumnya melakukan tapa brata dan poso mutih selama tujuh hari tujuh malam dan punjul lima menit.
Membumbungnya harga onderdil sepeda, akibat semakin banyaknya orang yang gandrung bersepeda, baik dengan maupun tanpa rem, menjadi salah satu penyebabnya. Semakin banyaknya orang bersepeda ini, menurut penelitian Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu, diakibatkan semakin menipisnya kemaluan orang ketika naik sepeda. Hal ini disebabkan naik sepeda saat ini merupakan hal yang sudah tidak memalukan lagi.
Penyebab lain adalah kelakuan para pengguna jalan lain dalam memperlakukan para pesepeda, terutama para sopir dan kondektur bis kota. Hal ini tak lepas dari kelakuan para pengguna jalan lain seringkali memotong jalur jalan sepeda dengan semena-mena seakan-akan pesepeda itu tidak ada wujudnya.
Kerapnya kejadian ini dialami oleh para pesepeda membuat para pesepeda itu mudah tersulut emosinya. Menurut Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu, inilah yang menjadi pangkal bersepeda mampu memicu serangan jantung. Selain itu, menurut hasil penelitian Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu tersebut juga mengungkapkan, bahwa reaksi pesepeda apabila mengalami kejadian tersebut di atas, berbeda-beda menurut kelompok sosialnya.
Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu mencontohkan, pesepeda yang termasuk kelompok abangan yang cenderung ekspresif akan langsung misuh-misuh di tempat dengan menyebutkan para penghuni Gembira Loka selengkap-lengkapnya. Sedangkan pesepeda kelompok abangan yang sanggup menahan emosinya hanya akan mengelus dada. Sedangkan pesepeda kaum santri, akan menyebut nama Gusti Kanjeng Pangeran berkali-kali sambil mendoakan orang yang memotong jalurnya tersebut agar segera mendapat hidayah sehingga menganggap pesepeda itu punya hak yang sama dengan pengguna jalan yang lain.
Di akhir publikasinya, Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu mengungkapkan kesimpulan yang sangat mengagetkan. Ternyata, setelah melakukan penelitian lebih mendalam, Prof. Dr. Trimbil Van Kemplu yakin, bahwa apabila manusia (Indonesia) sedang berada di jalan raya, merupakan produk modernitas yang setengah jadi dan hasil evolusi Darwin yang belum sepenuhnya sempurna.
Salam untuk Pak Trimbil
Salam balik, kata Pak Trimbil.
hahahaa…
benar ILMI Ah………… ^_^
23 Mei 2011 pada 11:28
Wah, penelitian ini bisa dimasukkan ke Jurnal yang kemarin disebut2 kang Enade itu
23 Mei 2011 pada 12:04
•telpon Prof. Dr. Trimbil•