Pilkada, Rasionalitas dan Kedewasaan Politik

Lagi, dan semoga saja tak berkepanjangan seperti yang terjadi di Maluku kemarin.

Semoga saja ini bukan menjadi sebuah alasan pembenar untuk kembali ”membunuh” demokrasi di Indonesia. Aku memang masih cukup pesimis dengan proses demokrasi di Indonesia, tapi bukan berarti menjadi orang yang akan diam saja ketika demokrasi kembali dikebiri.

Kekerasan dalam Pilkada kembali hadir. Saat ini Sumatera Selatan yang menjadi aktor sekaligus yang terkena getahnya. Perbedaaan hasil perhitungan cepat yang berbeda disinyalir menjadi penyulut konflik horizontal pendukung calon gubernur.

Mungkin memang rakyat Indonesia belum benar-benar siap dengan demokrasi. Sebuah sistem yang mensyaratkan pola pikir yang rasional sebagai prasyarat yang tak bisa ditawar. Sedangkan harus kita akui, tidak semua rakyat Indonesia masih belum benar-benar bisa berpikir dan bersikap rasional. Masih belum cukup bisa bersikap rasional dalam menanggapi dan menerima konsekuensi dari sebuah pertempuran, menang atau kalah.

Bisa jadi pula rakyat Indonesia masih dalam euforia setelah tiga puluh dua tahun terkekang. Setelah bertahun-tahun dikuasai, maka ini adalah saatnya untuk menguasai. Dan itu dilakukan dalam berbagai cara.

Ah, jadi teringat dengan almarhum ayah. Yang selalu mengaku sebagai seorang demokrat-nasionalis sejati. Sebagai seorang demokrat sejati, ia mengajarkan kepada kami, ketiga anaknya, demokrasi dalam kehidupan keseharian. Sesuatu yang akhirnya baru aku sadari ketika cukup berumur, sangat mempengaruhi pondasi berpikirku.

Aku yakin, demokrasi yang baik tidak datang dari ruang hampa. Aku yakin bahwa demokrasi yang baik didukung oleh sikap rasional dan kedewasaan pihak yang menjalankannya. Dan aku yakin, Pilkada dan Pilpres tidak akan rusuh ketika kita tidak mendengar lagi kerusuhan dalam Pemilihan RT, RW dan Kades. Karena harus kita akui, dalam sekup yang kecil dan sederhana saja, kita tak pernah belajar untuk benar-benar berdemokrasi.

Betewe, apakah keluarga anda sudah cukup demokratis?

Gambar diambil dari sini.

~ oleh ngodod di/pada 10 September 2008.

5 Tanggapan to “Pilkada, Rasionalitas dan Kedewasaan Politik”

  1. demokrasi itu kayak gunting kuku…
    dicari dan diperebutkan saat betul-betul dibutuhkan.

  2. yah, kan yang di atas juga bilang kita baru belajar… he…pembenaran kl terjadi hal-hal yg bodoh seperti itu :D

  3. lumayan demokratis lah maz dirumah..

  4. kata pepatah kuno,politik itu tai kucing..!!!!
    tapi,kalo sudah terjebak…maka terjunlah….

  5. masih belum bisa percaya sepenuhnya bangsa ini menerima demokrasi tanpa reserve.
    * Berita Pilkada Sumsel, pendukung SOHE marah ngamuk karena kalah

Tinggalkan Balasan