Krisis Eksistensi
Di sebuah Minggu malam yang rada dingin setelah Maghrib. Bertempat di sebuah Café yang menyediakan Kopi Hitam khas Makassar yang berada di seputaran Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta. Terjadilah sebuah percakapan rada serius tapi penuh kesantaian antara diriku dan seorang temanku.
Pas lagi enak-enak nyeruput kopi Vanilla Mocca yang terpaksa aku minum karena nggak boleh minum kopi hitam dulu, ndak tau kenapa, tiba-tiba temenku curhat ngomong. Kalo dia sekarang sedang jenuh dan ngerasa sedang mengalami krisis eksistensi. Sebuah pernyataan yang hanya kemudian membuatku semacam melongo mirip kebo bego. Dia Project Manager sebuah funding internasional getuh…
Gubrak jengkol…, aku ngerasa semacam salah denger. Tapi ketika dia menceritakan apa yang sedang dia hadapi, plus ditambah beberapa pertanyaanku yang menyelidik, menelisik, rada interogatif tapi nggak provokatif. Aku ngerasa dia emang lagi bener-bener krisis eksistensial dan membuat dia menjadi merasa sangat jenuh.
Aku jadi ngerasa bersyukur banget, tahapan itu sudah pernah aku lewati dan semoga nggak bakalan pernah datang lagi. Temenku itu ngerasa selama hidupnya, dan terutama saat ini, dia nggak ngelakuin apa-apa. Padahal lo diliat dari track record-nya, sudah bederet dan bejibun apa yang sudah dia lakukan. Jauhlah dengan apa yang mungkin sudah dilakukan oleh perempuan lain seumuran dia di kancah ruang publik.
Hum.., aku yakin ini adalah penyakit keempat yang biasa dijangkiti seorang aktifis. Penyakit yang bernama berpikir pencapaian-pencapaian besar dan tidak menghargai pencapaian-pencapaian kecil. Semacam aku coba brainstorming, aku coba yakinkan dia bahwa dia telah melakukan banyak hal. Aku korek satu-demi-satu apa yang sudah dia lakukan selama ini. Apa hal yang telah dia sumbangkan untuk orang lain. Capaian-capaian apa yang telah dia raih.
Nah.., keluar dah semua. Kemudian sebagai treatment, aku ajak dia untuk buat rencana-rencana jangka pendek yang kecil-kecil. Yang mungkin bagi pekerja sosial sekelas dia, merupakan hal yang sepele. Pake metode SMART ala alm. Mansour Fakih. Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Time Bound. Rencana-rencana nan “sepele” namun secara psikis dan paradigmatik bisa membuat kita merasa berarti dan berguna karena telah melakukan dan mencapai sesuatu. Rencana sepele seperti belajar berenang gaya bebas, belajar naik motor dan belajar motret.
Meskipun kemudian, dia sempet shock karena dengan melakukan hal-hal seperti itu pasti akan membuat struktur pengeluaran keuangannya akan berubah. Tapi aku coba terus meyakinkan. Pilih mana, duit banyak tapi stress dan merasa hidup gak berarti, ato kehilangan sedikit uang tapi benar-benar menikmati dan merasa hidup sangat berarti. Itu soal paradigma. Soal bagaimana cara pandang kita mengenai dan menjalani hidup.
Hidup hanya sekali, maka nikmatilah. Hidup hanya sekali, maka berartilah.
Gambar ngembat dari : http://www.panyingkul.com/gambar/poenam





jadi motivator sekalian aja dong kayak si Tung, siapa tau bisa bagi-bagi duit juga di lapangan.
@ selokan
mutik’e sopo Dab?
Lha nyang kerja ajah ngerasa ndak ngelakuwin apah-apah.
Gimana dengan sayah nyang seumur hidup ngerasa ndak pernah kerja…???
*** Sayah Orang Nyang Ndak Ada Kerjaan™ ….***
woh..
untung ae aku mung jongos..
berpikir pencapaian-pencapaian besar dan tidak menghargai pencapaian-pencapaian kecil
Aku juga kadang ngerasa gini. Tapi aku bukan aktifis.
setujuh