Emansipasi Setengah Hati a.k.a Double Burden

Inilah laki-laki, egonya gak ketulungan tingginya. Punya kedudukan setara sama perempuan aja gak mau, apalagi sampe kalah tinggi. Pun gitu pula komen ibu-ibu yang juga jadi aktifis dan pekerja pas curhat ma temenku. Para ibu-ibu tuh dah siap perang sampe berdarah-darah di ruang publik. Mau jika sampe harus sikut-sikutan dengan para bapak-bapak. Tapi…

Nah ini dia, tapinya itu. Para suami mereka a.k.a. para lelaki tidak mau tau dengan konsekuensi yang harus dihadapi oleh perempuan yang berjuang di ruang publik. Karena dengan bertempur di ruang publik, konsekuensinya ada waktu yang harus dikonversikan. Itu berarti, yang terkonversikan adalah waktu dimana para perempuan berada di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah (domestik). Pekerjaan semacam masak, mengurus anak, menyapu, mengepel, mencuci baju, dan semacamnyalah.

Konsekuensi ini memunculkan, harus ada pihak lain selain perempuan tersebut yang harus meng-cover pekerjaan yang mereka tinggalkan. Namun yang seringkali terjadi malah perempuan tersebut bukannya malah dibantu dengan adanya pihak lain (baca: suami) yang turut membantu sang istri untuk ikut menyelesaikan pekerjaan domestik yang melelahkan itu. Namun malah para lelaki itu masih asik berleha-leha nonton teve sambil nyeruput kopi. Nah, akibatnya para perempuan itu jadinya terkena beban ganda (double burden). Selain mengerjakan pekerjaan domestik, mereka juga berjuang di ruang publik. Nah, berbagi kerjaan aja gak mau, apalagi disuruh berbagi kekuasaan…

[Hehehe, suer. Besok-besok aku akan lanjutin nulis soal isu perempuan/gender lagi. Itung-itung nge-refresh otak, setelah lama gak bergelut di isu gender lagi. Thanks buat mbak Dewi Ahmad atas trigger-nya…]

~ oleh ngodod di/pada 8 April 2008.

Tinggalkan Balasan