drawn a line
Jujur aku pernah melakukannya, dengan cara mencintai seorang perempuan. Aku menciptakan batasan-batasan sendiri. Menciptakan hal-hal yang harus aku lakukan untuk bisa memenuhi segala tuntutan dan permintaannya. Aku terjebak dengan lubang yang aku ciptakan sendiri.
Ini mungkin hanyalah masalah perspektif. Tentang sudut pandang bagaimana kita melihat. Meskipun mungkin secara “obyektif”, apa yang dia tuntut, aku memang harus benar-benar melakukannya. Namun perspektif, yang akhirnya mempengaruhi niat kita melakukan sesuatu itu.
Dan aku memang telah melukis batas itu. Batas yang seharusnya tidak perlu aku buat. Karena batas itu tak perlu aku buat.
Jawabannya bukan pada akhirnya aku tidak boleh mencintai perempuan itu. Aku akan tetap mencintainya. Jawabannya ada pada aku harus merubah cara pandangku terhadap segenap tuntutan dan permintaannya. Bukankah kemerdekaan yang hakiki itu ada pada kemerdekaan untuk berpikir…???





Tinggalkan Balasan